Articles Comments

IHCS » News » Indonesia Butuh Menteri yang Pro-Petani

Indonesia Butuh Menteri yang Pro-Petani

IHCS_dokumen_foto_by_masinunkIHCS – Sejumlah  kalangan  berpendapat  untuk  menghindarkan Indonesia dari  krisis  pangan  dan  kebergantungan  yang  makin  tinggi  terhadap pangan impor, Presiden  Joko  Widodo  dalam  rencana  perombakan kabinet sebaiknya  mengisi  jabatan  kementerian  terkait  pangan  dengan  menteri-menteri yang pro-petani.

Presiden mesti mengarahkan  seluruh  pembantunya  untuk  menjadi  agen  pengembangan  sektor-sektor  produksi  rakyat,  dalam  hal  ini  para  petani,  nelayan,  dan  pembudidaya  ikan.

Pasalnya, selama Ini pemerintah  selalu  menjadi  perwakilan  dari  kepentingan  importir  pangan  yang dengan seenaknya merelakan  kepentingan  bangsa  demi  rente berlebihan dari impor.  Akibatnya,  daya  saing  sektor  pertanian  nasional  dan  bangsa  terus  tergerus  akibat  bergantung  dari  pangan  negara  lain.

Sangat  mengenaskan  jika negara dengan tanah yang  terkenal sangat subur dan laut  sangat  luas  ini  harus  mengandalkan  bahan  pangannya  dari  impor, hingga mencapai 17 miliar dollar AS setahun.

“Mutlak perlu menteri yang  pro-petani.  Kalau  tidak  begitu  kita  akan  selalu  kalah  dengan  negara  lain  di  bidang  pangan.  Menteri pro-importir membuat  stok  pangan  kita  akan  langka,  sementara  negara  lain  surplus  sehingga kita dikendalikan. Isu  geopolitik  nanti  adalah  pertarungan  pangan,  yang  menang  adalah  yang  punya  cadangan  pangan,”  kata  pengamat  ekonomi  dari  Universitas  Brawijaya  Malang,  Adi  Susilo,  ketika  dihubungi, Minggu (9/8).

Hal  senada  dikemukakan  anggota Dewan Ketahan Pangan  (DKP),  Gunawan.  Ia  menegaskan  pembiaran  terhadap  para  pejabat negara yang terus menjadi  antek  dari  kartel  importir  yang  hanya  mecari  untung  secara  gampang  perlu  segera  dihentikan. Presiden harus mengarahkan seluruh menteri terkait  pangan  untuk  lebih  berpihak  pada sektor-sektor produksi rakyat,  khususnya  petani,  nelayan,  dan pembudidaya ikan.

“Sebab  kuncinya  ada  di  kebahagiaan  petani  dan  nelayan.  Kalau  mereka  bisa  bahagia  itu  berarti  kedaulatan  pangan  tercapai.  Selama  ini  yang  bahagia  para  importir  yang nggak kerja  namun menikmati untung besar  dan mengahancurkan masa depan bangsa,” ungkap Gunawan.

Jika  petani  bahagia  karena  bisa  menikmati  keuntungan  dan  memenuhi  kebutuhan  hidup  dari  bercocok  tanam  maka mereka akan terpacu untuk  meningkatkan  produktivitas.  Generasi  penerus  dalam  keluarga  petani  pun  akan  tertarik untuk terus bertani.

Akibat  kebijakan  yang  tidak  pro-petani,  salah  satunya  impor  pangan  tanpa  kendali,  Indonesia  kehilangan  5  juta  petani dalam 10 tahun terakhir.

Mereka  menganggap  bertani  tidak  bisa  lagi  dijadikan  usaha  untuk menopang kehidupan. Sebelumnya, pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga  Surabaya, M Nafik, mengatakan  para menteri terkait pangan semestinya  mengutamakan  peningkatan  poduktivitas  petani  nasional,  ketimbang  jor-joran  membuka  keran  impor  untuk  memenuhi kebutuhan lokal.

Kebijakan  fatal  ini  pada  akhirnya  menimbulkan  kebergantungan  terhadap  produk  impor  dan  mematikan  petani  Indonesia.  Oleh  karena  itu,  mereka  menyayangkan  menteri yang menteri yang menyatakan kebijakan impor pangan  tidak akan merugikan petani.

“Tugas  menteri  adalah  meningkatkan  produksi  nasional  bukan impor. Kalau kebutuhan  kurang terus impor, orang biasa juga bisa. Di sini kompetensi  menteri diuji. Kalau tidak bisa  maka  presiden  harus  mengganti  menterinya.  Kalau  tidak,  kesulitan  ekonomi  ini  tidak  akan pernah selesai,” ujar dia.

Persamaan Visi

Gunawan  mengingatkan,  swasembada  dan  kedaulatan  pangan hanya bisa tercapai apabila para menteri terkait bidang  pangan memiliki visi yang sama  dengan  serikat  tani,  serikat  nelayan,  dan  koperasi  sehingga  kebahagiaan  petani  berada  di  landasan seluruh rencana kerja. Dan,  tegas  dia,  hal  itu  harus  dimulai dengan setop impor pangan  atau  naikkan  bea  masuk  impor.

Selain  itu,   harga  pembelian  pemerintah  (HPP)  yang  layak, subsidi APBN untuk benih  yang  dialokasikan  untuk  para  petani  pemulai  benih,  dan  melaksanakan redistribusi lahan.

“UU  Pangan,  UU  Perlindungan  dan  Pemberdayaan  Petani,  dan  UU  Hortikultura  sesungguhnya  telah  membatasi  impor  dan  modal  asing  di  holtikultura.  Tetapi  ketika  berhadapan dengan liberalisasi pangan, pertanian dan peternakan  berdasarkan  perjanjian  perdagangan internasional hal itu dipinggirkan,” papar Gunawan.

Sedangkan  Adi  menambahkan Indonesia berpotensi dilanda krisis pangan yang akan merembet ke berbagai krisis lain bila  pemerintah salah urus pangan.

“Setelah  pangan,  pertempuran selanjutnya adalah perang  sumber  daya  kehidupan.  Maka  menteri  yang  pro-sumber  daya  air,  pro-petani,  pro-peternak,  dan  lainnya  harus  ada.  Jangan  sampai  petani  dikecewakan  terus, karena sekarang ini pemuda  desa  sudah  enggan  bertani  karena merugi,” Pungkasnya. (Hy/Ink)

Filed under: News

Comments are closed.