Articles Comments

IHCS » News, Press Release, Publication » Peluncuran Buku Ruraltalks IHCS

Peluncuran Buku Ruraltalks IHCS

sampul buku

Bertempat di Hotel Kaisar  IHCS (Indonesian Human Rights Committee for Social Justice) meluncurkan buku yang bertajuk “Ikhtiar Memahami Transformasi Sosial Ekonomi Pedesaan” selain acara peluncuran buku IHCS juga mengadakan sesi diskusi mengenai buku itu sendiri, hadir dalam acara diskusi tersebut, sebagai nara sumber antara lain – Komisi ll DPR RI Budiman Sudjatmiko, Prof Dr. Endriatmo (Dosen IPB), Prof Dr. Gunawan Wiradi (pakar agraria) dan ketua eksekutif IHCS sendiri, Gunawan.

Peserta yang datang pun cukup beragam, dari kalangan organisasi masyarakat, mahasiswa, wartawan, lembaga pemerintah dan masyarakat sipil.

Buku ini sendiri merupakan buku untuk berikhtiar memahami transformasi sosial-ekonomi pedesaan, IHCS  menginisiasi sebuah program diskusi online pada website IHCS dengan nama ruraltalks.ihcs.or.id.  Diskusi online  tersebut menghadirkan 11 tulisan dari para panelis yang mengangkat berbagai tema terkait pedesaan. Tulisan para panelis lalu mendapatkan berbagai komentar dari para pembaca.

Kemudian IHCS menyelenggarakan  Focus Group Discussion untuk membahas lebih dalam apa yang telah diskusikasi secara online. FGD tersebut dihadiri oleh para panelis, beberapa komentator, delegasi ormas petani dan nelayan, staf ahli DPR, perwakilan Badan Ketahanan Pangan Kementan, Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan jurnalis.

Hasilnya kemudian dari rangkaian diskusi tersebut, disusunlah sebuah buku. Meski telah menjadi sebuah buku, bukan berarti diskusi telah usai, masih dibutuhkan berbagai ulasan dari mereka yang berkompeten, juga menjadi tugas baru bagaimana buku tersebut berpartisipasi dalam advokasi kebijakan publik terkait permasalah desa dan berkontribusi dalam menyumbang pengetahuan atas romantika, dinamika dan dialektika bersama.

Dua hal yang senantiasa diajukan sebagai upaya pembaruan desa. Pertama, adalah bagaimana negara tidak saja melindungi lahan pertanian petani dan wilayah perikanan nelayan tetapi melakukan pembaruan agraria, dalam rangka pembaruan penguasaan, pemilikan dan penggunaan sumber-sumber agraria; Kedua, adalah bagaimana negara memberikan dukungan tekhnologi, finansial, badan ekonomi kolektif masyarakat desa.

Dan jika dua hal tersebut adalah upaya mendemokratiskan pedesaan di lapangan ekonomi, demokrasi politik desa juga terus dikembangkan lewat cara-cara yang partisipatoris. Partisipasi yang emansipatoris dari rakyat desa ditujukan bagi upaya-upaya memakmurkan kehidupan di desa yang mana negara memiliki tanggungjawab dan kewajiban untuk pemenuhan kemakmuran penduduk desa, oleh karenanya keterlibatan rakyat desa dalam perencanaan pembangunan adalah hak asasi rakyat desa.

Pembaruan agraria adalah solusi bagi ketimpangan penguasaan sumber agraria dan mengakhiri dualisme yang kontradiktif antara perkebunan, perikanan dan pertambangan skala besar yang padat modal dengan pertanian dan perikanan rakyat yang subsisten.

Belajar dari negara-negara Asia dan Amerika Latin yang menjawab keterbelakangannya pasca kolonialisme dengan dua langkah, pertama, penataan, kembali kekayaan alam (sumber-sumber agraria) guna menjawab situasi minus capital (modal) tetapi surplus tenaga kerja dan kekayaan alam melalui pembaruan agraria (reforma agraria). Inilah kekuatan produktif yang dipergunakan untuk langkah kedua, yaitu membangun industri dasar-berat-besar yang mengelola hasil kekayaan alam, salah satunya hasil tambang, utamanya baja, guna mendukung industri ringan dan pertanian yang menyerap banyak tenaga kerja serta industri pertahanan khususnya pengadaan alutsista (alat utama sistem persenjataan). Hasilnya adalah terpenuhinya beberapa komponen utama kekuatan nasional, antara lain pangan, industri, dan militer. Bersatulah buruh, tani, dan prajurit, menjadi terealisir bukan hanya dalam pertahanan negara tetapi juga kemakmuran bangsa dan rakyat.

Namun nampaknya upaya pembaruan desa di Indonesia masih jauh, terkait pembaruan agraria, posisi desa masih terhimpit perkembangan kota, industri, perkebunan, kehutanan dan pertambangan. Terkait perkembangan industri, bukan industri missal yang masuk ke desa, tetapi justru dikembangkannya konsumerisme produk-produk konsumsi negara-negara lain. Inilah yang menjadi tantangan kita bersama.

Peluncuran buku dan diskusi kemudian di akhiri dengan buka bersama, dalam sela-sela buka bersama budiman sudjatmiko selaku Komisi ll DPR RI memesan khusus buku ini dan akan di bagikan kepada anggota pansus, sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun Rancangan Undang-Undang Desa. “Buku ini sangat lengkap materi yang disajikan begitu ringan tapi bobotnya luar biasa” Tutup Budiman.

 

(Hy/Ink)

Filed under: News, Press Release, Publication

Comments are closed.