Articles Comments

IHCS » News » Waspada Kehadiran Korporasi Asing

Waspada Kehadiran Korporasi Asing

kebunjagung

IHCS (indonesian Human Rights Committee for Social Justice

Jakarta, 29 januari 2013, Indonesian Human Rights Committee fo Social Justice (IHCS) mempermasalahkan keterlibatan korporasi besar bermasalah seperti Cargill dan Monsanto, dalam Pertemuan Tingkat Menteri Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) dalam kerangka program Kemitraan pada Kebijakan Ketahanan Pangan (Policy Partnership on Food Security/PPFS).

Tahun ini, Indonesia kembali mendapatkan kesempatan menjadi tuan rumah dari PPFS. Acara bertajuk 1st Senior Officials’ Meeting (SOM) APEC akan berlangsung pada tanggal 25 Januari – 7 Februari 2013 di Jakarta.

IHCS melihat, kehadiran pihak swasta terkait dengan sistem korporasi besar di sektor pangan.

“kita masih dalam posisi mempelajari terlebih dahulu keterlibatan Indonesia dalam APEC dan sekaligus dalam PPFS,” Ujar Ridwan Darmawan.

Kementerian Pertanian yang menjadi penanggungjawab kegiatan ini mengundang pihak pemerintah dan swasta. Ridwan mempermasalahkan kehadiran pihak swasta.

Menurutnya, yang bakal hadir adalah korporasi-korporasi besar yang selama ini sudah menyengsarakan petani di Indonesia. Tentunya ini akan berdampak pada komitmen dan hasil pertemuan.

“Korporasi besar yang selama ini banyak menyengsarakan petani-petani di seluruh dunia, Cargill, Monsanto, Ini yang perlu dikritisi oleh petani kita semua,” jelas Ridwan.

Ridwan mengakui Kementan menghimpun organisasi petani dan lembaga non pemerintah di Indonesia agar tergabung dalam acara ini. Tapi IHCS belum tertarik untuk bergabung.

“Kita belum menentukan posisi. Intinya mereka mensosialisasikan. Mereka juga mengajak petani atau organisasi tani untuk terlibat dalam agenda tersebut,” tegas Ridwan.

Seperti diketahui, Monsanto adalah perusahaan multinasional Amerika Serikat yang bergerak di bidang agrikultur. Produk pertanian yang dihasilkan oleh perusahaan ini adalah herbisida dan benih tanaman transgenik, seperti jagung dan kapas.

Sejak 2006, Monsanto banyak memproduksi benih terminator, yaitu benih yang hanya bisa ditanam satu kali sehingga petani tidak dapat menyimpan dan menggunakan hasilnya untuk penanaman selanjutnya.

Kiprahnya di sejumlah negara banyak menuai masalah dan dipersoalkan. Bahkan di Indonesia pada awal 2001 perusahaan ini terlibat skandal suap ke sejumlah pejabat senilai ratusan ribu dolar AS.

Perusahaan ini dihukum oleh Pengadilan New York dengan kewajiban membayar denda sebesar US$ 1,5 juta karena telah melanggar aturan larangan menyuap di luar negeri (the foreign corrupt practices act).

Monsanto berhasil berkelit dari jeratan hukum Indonesia. Para aktivis lingkungan di dunia menyebut Monsanto sebagai ‘global corporate terrorism’.

Kini, Monsanto menginvestasikan dana sebesar 40 juta dolar AS guna pengembangan benih jagung hibrida dan transgenik di Mojokerto, Jawa Timur. Sedikitnya 10.000 hektare lahan disiapkan.

Dipilihnya Mojokerto karena areal di kawasan tersebut sangat cocok bagi pengembangan jagung. Penggunaan teknologi transgenik menjadi salahsatu cara membantu pemerintah Indonesia memenuhi cadangan pangan khususnya jagung nasional.

Bahkan Menteri Pertanian Suswono juga mengakui penggunaan transgenik sebagai salahsatu alternatif penyediaan pangan.

Sejumlah kalangan menilai pemerintah mengabaikan kegagalan kapas transgenik satu dekade lalu. Juga penanganan kasus suapnya, tak pernah lagi terdengar kabarnya. Lupa

sumber : Ridwan darmawan

Husnul Yaqin

Filed under: News

Comments are closed.