Articles Comments

IHCS » News » BENIH LOKAL PEMULYA PETANI

BENIH LOKAL PEMULYA PETANI

Penggunaan bibit padi dari persilangan varietas lokal terus disebarkan. Agar petani tidak tergantung pada produk pabrik.

Joharipin-Pemberdaya

Joharipin, petani asal Desa Jengkok, Indramayu. Senin (14/5).

 

Suara Nasikin terdengar gembira. Sebab, biaya bercocok tanam padi turun menjadi Rp 5 juta per hektare untuk bibit, pupuk dan traktor. Biasanya, ia harus menyiapkan biaya sekitar Rp 7 juta per hektare. Hasilnya pun kini lumayan bagus. “Bisa mencapai 10 ton per hektare. Bibit biasa hanya 4 ton,” ujar Nasikin, petani di Indramayu, Jawa Barat, kepada Prioritas, beberapa waktu lalu.

Keuntungan berlipat itu dirasakan Nasikin sejak menggunakan bibit lokal Bongong. Bibit tersebut adalah hasil persilangan varietas lokal Kebo dan Longong. Adalah Joharipin, warga Desa Jengkok, Kecamatan Kertasemaya, Indramayu, Jawa Barat, yang melakukan persilangan bibit itu.

Petani lulusan Madrasah Aliyah Negeri Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, itu melakukan pemurnian bibit lokal seperti Longong, Jalawara, Marong dan Triputih. Bibit lokal yang berfungsi sebagai indukan ini kemudian disilangkan. “Setelah dilakukan banyak persilangan, dari jenis Bongong dihasilkan 60 macam varietas baru,” ujar Joharipin kepada Prioritas.

Semua itu dilakukan lantaran suami Faizah ini prihatin melihat kondisi petani yang tak kunjung sejahtera. Mereka dibuat bergantung dengan bibit hibrida, pupuk dan pestisida kimia buatan pabrik. “Petani dibuat semakin tergantung pada pihak lain,” ujar Joharipin.

Ketergantungan petani pada bibit bermerek dari pabrik ini juga sering dipermainkan. Mereka kerap mendapati kualitas benih yang tidak bagus karena ada yang dipalsukan. Akibatnya, hasil panen tak maksimal.

Berbekal pengetahuan yang didapat dari keluarganya, Joharipin mulai mencari bibit lokal yang ditinggalkan. Ia juga sempat menimba ilmu selama satu musim tanam di sekolah lapangan yang diadakan Yayasan FIELD (Farmer Initiatives for Ecological Livelihoods and Democracy) Indonesia. “Materi yang disampaikan dalam sekolah itu saya tekuni sampai sekarang,” ujar Joharipin.

Berbagai kendala dia hadapi. Mulai dari terbatasnya lahan yang bisa digunakan untuk mengembangkan pemuliaan benih hingga diskriminasi dari pemerintah. Joharipin menuding pemerintah daerah sering mengucilkan upaya pemuliaan benih yang dilakukan. “Mereka sering melarang petani menggunakan benih yang saya hasilkan,” ujar laki-laki kelahiran Indarmayu, 14 Desember 1975 ini.

Meski begitu, upaya pengembangan pemuliaan lahan terus dilakukan secara berkelompok. “Dari 50 hektare, sekarang menjadi 100 hektare yang menggunakan bibit,” ujar Joharipin. Para petani pun kini mencapai puluhan orang yang menggunakan bibit hasil persilangannya.

Upaya pengembangan dari varietas benih lokal terus dilakukan. Benih yang telah dikembangkan berasal dari berbagai daerah, seperti Ciamis, Kalimantan, dan Indramayu. Ia mendapat bibit lokal itu dari hasil tukar menukar dengan sesama petani untuk dijadikan indukan. “Bukan untuk ditanam. Kita ambil sifat ketahanan hama, irit pupuk, dan kekhasannya, karena biasanya pulen,” katanya.

Hingga saat ini, tak satu pun varietas baru dari bibit lokal ini yang dipatenkan. Selain tak sanggup karena butuh biaya besar, Joharipin tak ingin petani dipaksa membeli paten bibit. Agar tak diklaim perusahaan besar, ia mengajak petani di desanya sampai tingkat kecamatan mendeklarasikan benih-benih hasil persilangan itu sebagai milik petani dan tidak diperjualbelikan. “Ini untuk pengakuan,” katanya.

Saat ini, ia pun sedang memperjuangkan upaya hukum ke Mahkamah Konstitusi. Itu dilakukan agar petani yang melakukan pemuliaan dilindungi undang-undang. Karena ketika petani melakukan pemuliaan benih dan menjual bisa terjerat hukum. Sedangkan perusahaan besar bebas melakukan hal itu. “Padahal benih itu milik petani,” ujar Joharipin.

Ia ingin, suatu saat benih yang dihasilkan itu bisa dipakai petani di seluruh Indonesia. Karena, menurut Joharipin, perusahaan benih yang selama ini merugikan petani akan hancur jika banyak petani mengembangkan benih lokal.

http://www.prioritasnews.com/2012/08/14/benih-lokal-pemulia-petani/

Filed under: News

Comments are closed.